Mens Sana In Corpore Sano, Kajian Praktis Definisi dan Sejarahnya

Mens sana in corpore sano

Mens sana in corpore sano“, artinya ?. Beranjak dari motto ini kita awali dengan kajian berikut ini ;

Pekembangan teknologi canggih yang semakin berkembang, membuat tuntutan hidup semakin berkembang pula, beragam problematik dalam kehidupan – pun menggiring kita pada pola yang tidak biasa – biasa saja.

mens sana incorpore sano

mens sana incorpore sano

Betapa tidak, seiring berkembangnya waktu tuntutan dalam kehidupan pun juga semakin berkembang, membuat pola pikir/cara berpikir/ manusia pun semakin modern. (Dikutip dari referensi).

Di sini kita akan bahas tentang berbagai sudut pandang sejarah dan aplikasi pemerintah dari waktu ke waktu.

 

 

 

Mens Sana in Corpore Sano, dari sisi sejarah

Mens Sana in Corpore Sano, sesungguhnya adalah sebuah Mahakarya dari Sastra seorang pujangga Romawi ternama, yaitu “Decimus Iunius Juvenalis, dalam Satire X“, yang jatuh pada ± abad kedua Masehi.

Waktu itu, genre sastra Romawi saat itu pd umumnya berbentuk “satire”. Itu jugalah yang ditulis Juvenalis untuk menyindir kekonyolan-kekonyolan masyarakat Romawi (bangsanya sendiri).

Setelah beberapa abad kemudian “Mens sana in corpore sano” dijadikan jargon dalam dunia olahraga dan kesehatan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Ungkapan Latin itu diterjemahkan dengan sangat indah lainnya “Di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat”.

Mens Sana in Corpore Sano, di Indonesia

Untuk mendapatkan tubuh yang kuat dan sehat kita perlu berolahraga. Bila badan kita kuat dan sehat maka jiwa kita pun sehat. Kalau jiwa sehat, pikiran pun jernih. Tapi kalau jiwa kita sakit, pikiran jernih pun hilang (menghilang).  fisik dan mental yang kuat, jasmani dan rohani yang sehat, akan menghasilkan individu-individu tangguh, serta muaranya adalah sebuah bangsa yang hebat dan diperhitungkan (Amboi).

Presiden pertama RI, Bung Karno, mengapilasikan jargon tersebut dalam program “Olahraga untuk Nation and Character Building”.

Dengan tekad yang tidak tanggung-tanggung, “Jadikan Indonesia salah satu dari 10 besar di bidang olahraga, melalui pembinaan olahraga di SD/SLTP/SLTA. Dengan maksud terdapat bibit-bibit olahragawan, calon-calon juara pada kemudian harinya”.

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, jargon tersebut menjelma menjadi “Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat.”

SKJ 88 atau yang disebut Senam Kesegaran Jasmani 88, merupakan salah satu bagian dari kampanye masa Orba dalam rangka memasyarakatkan olahraga serta mengolahragakan masyarakat.

Hal ini dimaksudkan untuk mencetak generasi yang sehat dan kuat. Didukung oleh gaya kepemimpinan ketika itu, maka jargon olahraga Orde Baru ini dalam tempo singkat langsung populer dari Sabang sampai Merauke.

Selnjutnya, di era Presiden SBY, dengan “Program Indonesia Emas”, yang juga bertujuan mempersiapkan atlit handal bertujuan untuk mengharumkan nama bangsa di pentas dunia.

Apapun namanya, baik menurut Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, maupun Presiden SBY, animo masyarakat terhadap olahraga tetap tinggi. Cabang olahraga apapun dengan berbagai macam kompetisinya selalu berhasil menyita perhatian masyarakat.

loading...

Incoming search terms:

error: Content is protected !!